apa itu tanaman hidroponik

Metode Hidroponik Sebagai Teknik Budidaya Tanaman yang Memanfaatkan Air

Diposting pada

Pembudidayaan tanaman hidroponik atau tanaman hydroponic (hydroponics) memiliki banyak kelebihan jika dibandingkan dengan metode penanaman lainnya, misalnya tabulampot. Mulai dari caranya yang relatif mudah hingga yang tidak membutuhkan tempat yang luas merupakan alasan utama kenapa hidroponik semakin populer dan banyak diterapkan oleh banyak orang.

Selain tidak memakan banyak tempat,  jenis tanaman yang bisa dikembangkan dengan metode ini juga ternyata cukup beragam, mulai dari sayuran,  tanaman herbal, tanaman hias hingga beberapa jenis tanaman buah. Kedepannya hidroponik adalah salah satu alternatif cara bertani modern yang banyak diminati masyarakat modern terutama sistem hidroponik sederhana untuk pengguna rumahan.

Apa Itu Tanaman Hidroponik dan Sistem Hidroponik Pada Tanaman

pengertian metode sistem hidroponik pada tanaman e1593608460514 - Metode Hidroponik Sebagai Teknik Budidaya Tanaman yang Memanfaatkan Air

Sebelumnya kita harus sepakat, bahwa setiap tanaman dan tumbuhan akan tumbuh dengan baik apabila kebutuhan nutrisi (unsur hara) yang dibutuhkan selalu tercukupi. Dalam hal ini ada dua media penting yang merupakan fungsi dari tanah, yaitu untuk penyangga tanaman dan air yang ada dalam tanah sebagai pelarut nutrisi yang kemudian bisa diserap tanaman.

Maka sebenarnya asalkan nutrisi bisa terpenuhi, kita bisa mengganti media tanah dengan media lainnya.  Tanaman tetap bisa tumbuh dengan baik. Pola pikir inilah yang akhirnya melahirkan teknik bertanam dengan hydroponics. Pada metode ini yang ditekankan adalah pemenuhan kebutuhan nutrisi, sedangkan medianya bisa diganti dengan media lainnya akan tetapi mempunyai fungsi yang sebanding dengan tanah.

Pengertian dan Sejarah Asal Mula Istilah Hidroponik

asal mula sejarah tanaman hidroponik e1593608613706 - Metode Hidroponik Sebagai Teknik Budidaya Tanaman yang Memanfaatkan Air

Hidroponik atau dalam bahasa inggris “hydroponic” sebenarnya berasal dari kata Yunani yaitu hydro yang memiliki arti air dan ponos yang berarti daya (kerja). Selain itu, hidroponik juga dikenal sebagai “soilless culture” atau budidaya tanaman tanpa tanah.

Dalam kajian bahasa, hidroponik berasal dari kata hydro yang berarti air dan ponos yang berarti kerja. Jadi, hidroponik memiliki pengertian secara bebas teknik bercocok tanam dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman, atau dalam pengertian sehari-hari bercocok tanam tanpa tanah. Dari pengertian ini terlihat bahwa munculnya teknik bertanam secara hidroponik diawali oleh semakin tingginya perhatian manusia akan pentingnya kebutuhan pupuk bagi tanaman

Dengan demikian hidroponik dapat diartiken sebagai metode budidaya tanaman yang memanfaatkan air dan tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya.

Perkembangan Penelitian Budidaya Tanaman Sistem Hydroponics

perkembangan penelitian sistem hidroponik e1593608712294 - Metode Hidroponik Sebagai Teknik Budidaya Tanaman yang Memanfaatkan Air

Metode pembudidayaan tanaman sistem hydroponics bukan merupakan hal yang baru. Mengapa disebutkan demikian? Tidak lain karena penelitiannya sudah dilakukan dan dikembangkan sejak beberapa abad yang lalu, dimana secara garis besar terdiri dari tiga tahapan berikut:

Penelitian Awal Tanaman Hidroponik Pada Media Air dan Tanah

Asal usul dan sejarah hydroponics berawal dari tulisan Francis Bacon pada tahun 1627. Tulisan tersebut sangat terkenal pada saat itu yaitu Sylva Sylvarum yang membahas tentang budidaya tanaman tanah menggunakan media selain tanah.

Berdasarkan tulisan tersebut, maka 70 tahun kemudian tepatnya pada tahun 1699 John Woodward melakukan penelitian lebih lanjut. Pada penelitian tersebut didapatkan hasil bahwa tanaman yang ditumbuhkan pada air jernih (hanya air murni saja) tidak lebih bagus dari tanaman yang tumbuh di air yang bercampur sedikit lumpur yang keruh. Setidaknya penelitian ini berhasil menyimpulkan bahwa air saja tidak cukup mengandung zat nutrisi untuk tanaman agar tumbuh dengan subur.

Penelitian Lanjutan Tanaman Hidroponik Tentang 9 Element Nutrisi Kesuburan Tanah

Sejak penelitian awal, riset tentang hydroponics ini terus berlanjut dan progres pesatnya mulai terlihat pada tahun 1842. Pda tahun itu Julius von Sachs dan Wilhelm Knop berhasil menemukan sembilan elemen nutrisi yang dibutuhkan tanaman agar bisa tumbuh subur.

Kemudian di tahun 1859-1865 mulai dibuat nutrisi yang berisi 9 elemen nutrisi kesuburan tanaman tersebut dalam bentuk larutan. Adapun 9 elemen nutrisi ini nantinya yang akan menjadi cikal bakal nutrisi hidroponik yang mamu menggantikan fungsi unsur hara dalam tanah.

Kesimpulan pada tahap lanjutan ini menegaskan bahwa bercocok tanam dengan media air akan menghasilkan tanaman yang sama suburnya. Atau bahkan bisa saja lebih subur daripada tanaman yang ditanam di tanah. Karena intinya adalah bukan tanah melainkan 9 unsur elemen tadi.

Hasil penelitian tersebut selain menegaskan bahwa bercocok tanam dengan media non tanah itu sangat mungkin, juga sekaligus mejadi pijakan penting dalam teknologi bercocok tanam modern. Bahasa akademisinya sering dikenal sebagai “solution culture”, yaitu teknik bercocok tanam tanpa media tanam atau teknik inert. Dimana unsur nutrisi (hara) dan media tanam menjadi satu dalam air.

Penelitian Puncak Tanaman Hidroponik dan Keberhasilan Pembudidayaannya

Pada abad 19 merupakan masa penelitian puncak dari tanaman hidroponik. Pada saat itu William Frederick Gericke pada tahun 1929 dari Universitas California menemukan metode bercocok tanam hidroponik. Pada awalnya metode tersebut tidak dinamakan hidroponik, melainkan aquaculture atau budidaya perairan. Akan tetapi nama aquakultur sudah lebih dulu digunakan untuk menamakan metode budidaya hewan air. Sehingga disarankanlah oleh rekannya bernama WA Setchell untuk diberi nama hidroponik.

Pada penelitian tersebut William Frederick Gericke berhasil menumbuhkan tanaman tomat setinggi 25 kaki di halaman belakang rumahnya. Setelah puas akan hasil penelitiannya, maka dia meminta izin untuk menggunakan fasilitas kampus berupa greenhouse untuk penelitian lebih lanjut. Namun usulan beliau ditolak oleh pihak kampus yang ragu tentang hal tersebut. Sebagai solusi pihak kampus memberikan fasilitas rumah kaca beserta teknologinya dengan syarat memberikan resepnya tentang hidroponik.

Pada tahun 1940 Gericke mempublikasikan tulisannya yang berjudul Complete Guide to Soil less Gardening. Isinya meliputi hidroponik secara keseluruhan, mulai dari teknik, media, nutrisi dan langkah-langkah bercocok tanam hidroponik.

Setelah saat itu sistem tanam hidroponik hasil pengembangan beberapa penelitian berkembang sangat pesat  menjadi sistem tanam hidroponik sederhana ada juga sistem yang memanfaatkan teknologi khusus. Perkembangan tersebut telah diadopsi ke seluruh penjuru dunia hingga ke Indonesia. Bahkan beberapa sistem tanam hidroponik yang terlihat sederhana justru sangat populer di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *